PERINGATAN: bagi yang belum nonton anime atau baca manganya, jangan lanjutin baca! Tapi kalo lu ga peduli tentang kenikmatan menonton atau membaca, silakan.

Awal gue nonton film ini cuma buat nemenin santap siang ala Joli (hemat). Dengan gayanya yang unik, tontonan ini berhasil membuat telur dadar menjadi lebih lezat. Namun, di tengah episode, tawa gue mulai berubah menjadi senyum manis. Gue mulai menangkap pesan satir yang disampaikan pembuat. Dari itu gue mulai tekun untuk menontonnya meski tidak ada nasi di antara gue dan cinta sejati (red: laptop) gue.

Hal yang paling gue suka dari One Punch man adalah ceritanya yang ga basi. Di sini lu ga bakal nemuin cewek cakep yang berdiri ditengah jalan buat ditabrak cowo ganteng kaya gue dan berharap bisa jadian dengan cowo tersebut. Atau kisah seorang pahlawan dengan identitas rahasia yang berjuang untuk menyelamatkan orang yang dicintainya yang tengah diculik oleh musuh yang sangat kuat. One Punch Man juga bukan cerita tentang penghayal yang ingin mengubah dunia yang menghabisi musuhnya dengan kata-kata motivasinya. Saitama hanyalah seorang yang mempunyai impian sederhana (menjadi pahlawan adalah hal yang lumrah di dunianya). Dia bahkan hanya mendapat nilai C saat ujian menjadi pahlawan.

Dengan jalan cerita seperti ini, gue membayangkan bahwa di akhir, Saitama akan menghadapi lawan yang kuat dan dengan seluruh kekuatannya dia berhasil menyelematkan dunia, Yey :). Ternyata imajinasi gue salah. Si pembuat seperti tahu jalan pikiran gue dan ingin mempermainkan gue. Fuck You!

Di episode terakhir, Boros, lawan terkuat Saitama, bagaikan angin yang sangat kencang yang menghancurkan semua rumah-rumah dan menerbangkan sapi-sapi ke berbagai penjuru. Saitama bagaikan rumput liar yang tidak peduli kekuatan maha dahsyat sang bayu. Dan seperti biasa dengan pukulan sederhana, Boros langsung hancur. Tetapi tidak seperti yang lain, Ia masih sekarat saat menerima pukulan Saitama.

Boros mungkin mati, tapi Dia sudah mencapai tujuan hidupnya, menemukan lawan yang kuat. Hidupnya berakhir dengan kebahagian atas pencapaiannya. Sedangkan Saitama masih harus melanjutkan kehampaannya, melanjutkan kehidupan yang penuh kemunafikan, kehidupan di tengah masyarakat yang terlalu bodoh untuk mengerti keberadaannya.

Kommentare